Betulkah Ada Kaum Yahudi dan Nasrani di Surat Al Fatihah

Tulisan ini adalah milik Dosen Hebat, seorang professor dan juga sebagai rois Syuriah Istimewa. Ya beliau adalah Prof Nadirsyah Hosen, Rois Syuriyah PCINU Australia, serta sebagai Dosen Senior di Monash Law School. Berikut adalah penjelasan yang ditulis beliau yang kami pakai disini:

Dalam Surat Al Fatihah dari awal hingga akhir adalah sebuah doa yang luar biasa. menunjukkan bahwa kita ini bukan siapa siapa, hanya manusia dan makhluk ciptaan Allah, manusia yang wajib menyembah kepada Allah Ta'ala dan kita hanya meminta kepada-Nya. Dan Doa kita yang terakhir adalah untuk ditunjukkan jalan yang lurus yaitu jalan dari orang orang diberi Anugerah kenikmatan dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan juga pula bukan jalan orang yang sesat.

Nah disini Prof mengupas ayat terakhir dari surat Alfatihah tersebut. Siapa sebenarnya orang orang yang di Murkai ini, dan siapa pula orang yang sesat tersebut.

Dalam Surat Al-Fatihah di ayat yang ke-7, tertulis:

‎ صِرَاطَ -الَّذِينَ- أَنْعَمْتَ- عَلَيْهِمْ -غَيْرِ الْمَغْضُوبِ- عَلَيْهِمْ- وَلا- الضَّالِّينَ

yang maknanya adalah [yaitu] jalan orang-orang yang telah/sudah Engkau (Allaah) anugerahkan kenikmatan kepada mereka; bukan [dari jalan] mereka yang telah/sudah dimurkai dan bukan pula [dari jalan] mereka yang sudah sesat.

Disini prof Nadir mengupas dengan merujuk pada ahli tafsir dan mengatakan bahwa "umumnya para ahli-tafsir semua menjawab iya (mereka itu kaum Yahudi dan Nasroni)".

Hal ini disebutkan dalam kitab Tafsir al-Mawardi yang mengatakan bahwa ini adalah pendapat mayoritas ulama ahli tafsir.

وأما قوله-: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ -عَلَيْهِمْ -وَلاَ الضَّالِّين} فقد روى- عن عديِّ -بن حاتم- قال-: سألتُ- رسول الله- صلى الله- عليه وسلم، عن المغضوب- عليهم-، فقال: "هُمُ اليَهُود" وعن الضالين- فقال: "هُمُ النَّصارى". وهو- قول جميع- المفسرين.

Bahkan Pendapat Ibn-Katsir mengutip dari Ibnu Abu Hatim, yang mengatakan : dia belum pernah mendapati/mengetahui para kalangan ulama ahli tafsir terdapat perselisihan pendapat akan makna ayat ini (surat alfatihah).

Akan tetapi, Prof Nadir mendapatkan sejumlah ulama (ahli tafsir) yang menfasiri dengan tafsiran yang berbeda. berikut adalah penjelasannya:

1. para mufassir (ahli tafsir) membedakan terlebih dahulu dengan memberikan definisi apa yang dimaksud dengan “dimurkai” dan juga “sesat”. Ibn Katsir dan lainnya berpendapat bahwa Orang-orang yang "dimurkai" yaitu mereka yang sudah/telah rusak dikarenakan mereka sebenarnya sudah mengetahui perkara-perkara yang benar (haq), tetapi mereka menyimpang darinya (perkara haq). Sedangkan mereka yang "sesat" yaitu mereka yang tidak mempunyai ilmu, sehingga akhirnya mereka ini berada didalam kesesatan, tidak mendapatkan hidayah sedikitpun untuk kepada jalan yang benar (haq).

Pertanyaannya adalah: siapakah sebenarnya contoh dari kedua golongan ini? pertanyaan ini dijawab oleh Ibn Hajar dalam kitabnya Fathul Bari dengan memberikan penjelasan riwayat yang berisi tentang jawaban Nabi Muhammad Shollalloohu Alaihi Wasallam.

‎-ذكرها- أبو عبيد- وسعيد- بن منصور- بإسناد صحيح ، وهي- للتأكيد- أيضا- وروى -أحمد- وابن حبان- من حديث- عدي- بن حاتم أن النبي - صلى الله عليه- وسلم - قال : المغضوب عليهم- اليهود- ، ولا الضالين- النصارى- هكذا- أورده- مختصرا ، وهو عند الترمذي- في حديث- طويل . وأخرجه- ابن مردويه- بإسناد -حسن -عن أبي ذر- ، وأخرجه- أحمد -من طريق- عبد الله- بن شقيق- أنه- أخبره- من سمع- النبي - صلى الله- عليه وسلم - نحوه ،

Terdapat riwayat yang jelas berbeda akan tetapi secara umum, menurut pendapat Ibn Hajar, bahwa jawaban Nabi yaitu yang dimaksud dimurkai itu adalah kaum Yahudi dan yang dimaksud sesat itu adalah kaum Nasrani. Hadits ini Riwayatnya shohih dan ada pula yang hasan.

Para ahli tafsir, seperti Zamakhsyari dalam Kitabnya al-Kasyaf, menyebutkan referensi lain dalam al-Qur’an yaitu untuk meneguhkan (menguatkan) pendapat ini, yaitu dengan dalil surat al-Maidah: ayat 60 dan juga ayat 77 di surat yang sama. Sehingga mayoritas ulama ahli tafsir merujuk pendapat ini.

Lain halnya dengan sebagian ahli tafsir lainnya yang memiliki pendapat berbeda.

Dalam Tafsir al-Maturidi mendefenisikan bahwa “yang dimurkai” dan juga “yang sesat” itu merupakan satu paket atau satu golongan. Tidak dua golongan yang berbeda. Hal ini dikarenakan sesat itu juga pasti dimurkai, dan juga orang-orang yang dimurkai Allooh Ta'ala juga pasti di jalan sesat. Hanya saja Kitab Tafsir Al-Maturidi ini tidak menyebutkan Nasrani dalam contohnya, kitab ini menyebutkan pendapat yang dimaksud adalah kaum Yahudi.

Berkut adalah Kutipan dari Tafsir al-Qurthubi yang berpendapat berbeda:

‎وقيل: " -المغضوب عليهم-" المشركون-. و" الضالين"- المنافقون.- وقيل: " المغضوب عليهم"- هو- من أسقط- فرض- هذه السورة في الصلاة،- و" الضالين" عن بركة- قراءتها.- حكاه السلمي- في حقائقه- والماوردي- في تفسيره،- وليس بشيء.- قال- الماوردي: وهذا- وجه مردود،- لأن- ما تعارضت فيه- الأخبار- وتقابلت فيه- الآثار- وانتشر- فيه الخلاف، لم يجز- أن يطلق- عليه- هذا الحكم. -وقيل: " المغضوب عليهم" -باتباع البدع،- و" الضالين" عن سنن الهدى.- قلت: وهذا حسن، وتفسير- النبي- صلى الله عليه وسلم أولى- وأعلى- وأحسن

Ada Ulama yang berpendapat bahwa 'yang dimurkai' itu adalah golongan orang-orang musyrik. Dan 'yang sesat' itu adalah golongan orang-orang Munafik. Namun pendapat dari Imam Mawardi didalam kitab tafsirnya membantah yang mempunyai pendapat seperti ini dan juga yang mengatakan pendapat ini itu tertolak. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa "yang dimurkai" itu adalah orang-orang yang mengikuti perbuatan bid’ah. Kemudian yang 'yang sesat' itu adalah orang-orang yang menyimpang dari petunjuk Allooh Ta'ala. Al-Imam Al-Qurthubi menyimpulkan bahwa ulama yang berpendapat ini tetap sah, Akan tetapi tafsir dari Nabi adalah pendapat yang lebih utama dan lebih baik.

ada tafsir dari tafsir ar-Rozi yang bisa jadi bahan diskusi:

‎الْفَائِدَةُ الْأُولَى:- الْمَشْهُورُ- أَنَّ الْمَغْضُوبَ عَلَيْهِمْ- هُمُ الْيَهُودُ،- لِقَوْلِهِ- تَعَالَى-: {مَنْ -لَعَنَهُ -اللَّهُ- وَغَضِبَ -عَلَيْهِ} [الْمَائِدَةِ: 60]، {وَالضَّالِّينَ}:- هُمُ- النَّصَارَى،- لِقَوْلِهِ- تَعَالَى-: {قَدْ- ضَلُّوا- مِنْ- قَبْلُ- وَأَضَلُّوا- كَثِيراً- وَضَلُّوا- عَنْ سَواءِ- السَّبِيلِ} [الْمَائِدَةِ: 77] وَقِيلَ:- هَذَا- ضَعِيفٌ،- لِأَنَّ- مُنْكِرِي- الصَّانِعِ- وَالْمُشْرِكِينَ- أَخْبَثُ- دِينًا- مِنَ- الْيَهُودِ- وَالنَّصَارَى-، فَكَانَ- الِاحْتِرَازُ- عَنْ دِينِهِمْ- أَوْلَى، بَلِ -الْأَوْلَى- أَنْ يُحْمَلَ- الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ- عَلَى- كُلِّ مَنْ أَخْطَأَ- فِي الْأَعْمَالِ- الظَّاهِرَةِ- وَهُمُ الْفُسَّاقُ،- وَيُحْمَلُ- الضَّالُّونَ- عَلَى- كُلِّ مَنْ أَخْطَأَ- فِي الِاعْتِقَادِ- لِأَنَّ -اللَّفْظَ- عَامٌّ- وَالتَّقْيِيدُ- خِلَافُ الْأَصْلِ،- وَيُحْتَمَلُ- أَنْ يُقَالَ: الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ- هُمُ الْكُفَّارُ،- وَالضَّالُّونَ- هُمُ الْمُنَافِقُونَ،- وَذَلِكَ- لِأَنَّهُ تَعَالَى- بَدَأَ- بِذِكْرِ- الْمُؤْمِنِينَ- وَالثَّنَاءِ- عَلَيْهِمْ- فِي خَمْسِ- آيَاتٍ مِنْ- أَوَّلِ الْبَقَرَةِ،- ثُمَّ أَتْبَعَهُ- بِذِكْرِ الْكُفَّارِ- وَهُوَ -قَوْلُهُ:- {إِنَّ- الَّذِينَ- كَفَرُوا} -[الْبَقَرَةِ: 6]- ثُمَّ- أَتْبَعَهُ- بِذِكْرِ- الْمُنَافِقِينَ- وَهُوَ- قَوْلُهُ: {وَمِنَ- النَّاسِ- مَنْ- يَقُولُ- آمَنَّا} [الْبَقَرَةِ: 8]- فَكَذَا هاهُنا- بَدَأَ بِذِكْرِ- الْمُؤْمِنِينَ،- وَهُوَ -قَوْلُهُ: {أَنْعَمْتَ -عَلَيْهِمْ}، ثُمَّ- أَتْبَعَهُ- بِذِكْرِ -الْكُفَّارِ،- وَهُوَ -قَوْلُهُ: {غَيْرِ- الْمَغْضُوبِ -عَلَيْهِمْ}،- ثُمَّ أَتْبَعَهُ -بِذِكْرِ الْمُنَافِقِينَ،- وَهُوَ قَوْلُهُ: {وَلَا -الضَّالِّينَ}.

Pendapat yang masyhur (mayoritass ulama) bahwa yang dimaksud dari “yang dimurkai” itu adalah kaum Yahudi, sedangkan yang dimaksud “yang sesat” itu adalah kaum Nasrani, dikatakan sebagai pendapat dha’if (lemah). Karena orang yang menyembah berhala dan orang yang Musyrik itu lebih jelek lagi dibanding orang Yahudi dan orang Nasrani, sehingga menghindari jalan mereka itu lebih berharga untuk disebutkan. oleh karena itu, akan lebih baik ditafsirkan “yang dimurkai” itu adalah sebagai orang-orang yang bersalah perbuatan seperti orang Fasiq, dan dimaksud “yang sesat” itu adalah orang-orang yang bersalah dalam hal akidah/keyakinan. Hal Ini dikarenakan redaksinya adalah bersifat umum, dan ketika membatasinya akan menjadi keliru.

Imam ar-Razi kemudian menyebutkan: ada kemungkinan bahwa dimaksud dengan “yang dimurkai” itu merupakan orang-orang Kafir. Dan “yang sesat” itu merupakan orang-orang Munafik. Dalilnya yaitu dalam lanjutannya setelah surat al-Fatihah, yaitu lima ayat pertama didalam surat alBaqarah, ayat tersebut memuji orang-orang yang beriman, yang kemudian mengancam orang-orang Kafir (ayat 6) dan kemudian membahas tentang orang-orang Munafik (ayat 8 )

Prof Nadir pun melanjutkan analisisnya dengan memberikan rujukan lainnya. Yaitu:

Al-Imam al Alusi, di kitab tafsirnya "Ruhul Ma’ani", ia mengkritik penafsiran dari Imam ar-Rozi di atas. Pendapatnya sama dengan Imam Qurthubi, Penafsiran ini lebih baik itu mengikuti dari riwayat Hadits yang menerangkan dari jawaban rosulullooh.

Ibnu Asyur, di kitab tafsirnya "atTahrir wat-Tanwir" berusaha mengambil jalan tengah dari diskusi ini. Menurutnya, jawaban dari Nabi Muhammad adalah sebuah contoh berdasarkan masyarakat yang dikenal oleh bangsa Arab ketika turunnya wahyu. Pada waktu itu, diketahui pula bahwa kedua masyarakat tersebut (kaum Yahudi dan kaum Nasrani) adalah merupakan sebuah contoh paling jelek untuk dimasukkan kedalam ke-umum-an ayat ketujuh dari surat al-Fatihah ini. Hal ini bermakna bahwa jikalau mengikuti alur pendapat ini, itu tidak berarti bahwa contohnya harus mereka (kaum yahudi dan nasrani), atau dibatasi oleh mereka semata.

Itu sebabnya as-Syekh Muhammad Abduh, dalam "Tafsir al-Manar" dan juga as-Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam "Tafsir al-Munir" lebih memilih untuk dikembalikan lagi ke makna umum. Yaitu dengan kata lain bahwa "yang dimurkai" itu adalah orang-orang yang menolak kebenaran (haq) agama Allooh, dan juga melakukan kerusakan di bumi, sedangkan untuk "yang sesat" itu adalah orang-orang yang sama-sekali tidak mengenal kebenaran atau tidak mengenal kebenaran melalui jalan yang sahih, atau mengurangi dan memodifikasi petunjuk.

Kesimpulannya adalah dari penjelasan ahli tafsir dam beberapa kitab tafsir tersebut, jawabannya bisa kaum Yahudi dan kaum Nasrani; bisa juga Penyembah Berhala maupun dari Kaum Musyrik; atau bisa juga orang-orang yang Fasik dan juga para pelaku Bid’ah, dan bisa juga orang-orang Kafir dan orang-orang Munafik.

Inilah Ilmu tafsir dari berbagai pendapat yang hanya menafsirkan 1 ayat saja dari ayat ke 7 surat Al Fatihah. Oleh karena itu, Surat Al fatihah merupakan rukun qouli dalam sholat sehingga orang yang mau menjalankan sholatnya dapat terhindar dari kemaksiatan (tanha 'anil fahsyai wal munkar).

Karima Kaligrafi membuat kaligrafi surat Alfatihah dari kayu ukiran untuk menghias dinding rumah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Betulkah Ada Kaum Yahudi dan Nasrani di Surat Al Fatihah"

Posting Komentar